Skip Repetitive Navigational Links
Wisata Paroki
« Previous
Gereja Orthodox Polandia

Rabu, 08 Agustus 2007

Ketika Polandia dikembalikan sebagai negeri yang mandiri pada awal Perang Dunia I, hampir 4 juta orang-orang Kristen Orthodox yang termasuk di dalamnya menuju ke wilayah baru itu. Kebanyakan dari mereka adalah etnis Belarusia dan Ukraina dalam bagian timur dari negeri yang berada dibawah wilayah yuridiksi dari Kepatriarkhan Moskow.
Namun, segera setelah kemerdekaannya, pemerintah Polandia mulai untuk megajukan suatu ide bahwa Orthodox di Polandia harus mengundangkan suatu autocephalous (berkepala sendiri-pent.) Gereja Orthodox yang mandiri dari Moskow. Keadaan ini didukung pertama kali oleh Metropolitan Orthodox Warsawa, George Yoroshevsky, yang baru saja diangkat oleh Moskow, dan menjaminkan sebuah tingkat otonomi yang tetap. Namun dalam tahun 1923 dia dibunuh oleh seorang rahib Rusia yang melawan pandangan itu.
Pemerintah Polandia lalu menyerukan soal ini kepada Kepatriarkhan Konstantinopel yang, setelah konsiderasi yang panjang, mengeluarkan dokumen pengakuan status autocephalous kepada Gereja Orthodox Polandia pada tanggal 13 November 1924. Dalam tahun 1927 Konstantinopel juga mengabulkan gelar “Beatitude” dari Metropolitan Warsawa. Kepatriarkhan Moskow, menganggap tindakan ini sebagai interfensi dalam urusan-urusannya dan menolak mengakui status ke-autocephalous-an gereja Polandia.
Selama periode antarperang ada banyak ketegangan dalam Gereja Orthodox Polandia yang berasal dari fakta bahwa semua uskupnya adalah orang Rusia, sementara 70% dari umat beriman adalah orang Ukraina. Para uskup menolak permintaan bagi uskup orang Ukraina dan penggunaan bahasa Ukraina dalam liturgi, namun mengambil langkah-langkah untuk memenuhi banyaknya aspirasi-aspirasi ini. Selama periode ini ada 5 keuskupan , 2 seminari (di Vilnius dan Krzemieniec) dengan 500 siswa, sebuah Fakultas dari Teologi Orthodox di Warsawa dengan 150 siswa, 1.624 paroki, dan 16 monasteri.
Dalam tahun 1930-an ada juga banyak konflik-konflik yang patut disayangkan antara Katholik dan Orthodox di Polandia. Metropolitan Dyonisia dari Warsawa secara resmi memprotes kejadian-kejadian anti-Orthodox, dikatakannya bahwa imam-imam Orthodox memiliki kekuasaan untuk mengajar di Polandia, gereja-gereja ditutup secara paksa dan banyak yang dihancurkan, dan tekanan ditujukan pada umat beriman Orthodox yang menjadi Katholik. Metropolitan Katholik Ukraina Andrew Sheptytsky membenarkan tuduhan itu dan menambahkan melalui suaranya sendiri terhadap protes Orthodox dalam sebuah surat pastoral kepada umatnya.
Ketika Polandia Timur dianeksasi oleh Uni Soviet dalam tahun 1939, begitu banyak orang Orthodox Polandia lagi menemukan diri mereka sendiri dalam Uni Soviet dan bergabung kembali kedalam Kepatriarkhan Moskow. Selanjutnya Gereja Orthodox Polandia berkurang dengan cepatnya dalam jumlah.
Dalam tahun 1948, seiring dengan melambungnya komunis di Polandia, Metropolitan Orthodox Warsawa dipecat karena penentangannya kepada paham komunis. Dalam tahun yang sama, melalui permintaan dari sinode uskup Orthodox Polandia, Kepatriarkhan Moskow secara terus menerus menyatakan pembatalan dari pernyataan authocephalous Konstantinopel pada tahun 1924 dan mengabaikannya, dan mengeluarkan pernyataannya sendiri mengenai ke-autocephalous-an itu. Meskipun demikian, kantor dari Metropolitan Warsawa tetap kosong hingga 1951, ketika para uskup Orthodox Polandia menanyakan kepada Kepatriarkhan Moskow nama baru dari seorang Metropolitan. Moskow kemudian mengangkat Uskup Agung Makary Oksaniuk dari Lviv di Ukraina, yang telah memimpin atas pembubaran dari Gereja Katholik Ukraina dalam tahun 1946-1947, sebagai Metropolitan baru. Sejak waktu itu, Gereja Orthodox Polandia selanjutnya memiliki suatu hubungan yang dekat dengan Kepatriarkhan Moskow.
Ada 3 monasteri kecil orang Orthodox Polandia di Jableczna, Supraśl (dekat Bialystok ), dan Gunung Grabarka. Komplek Monasteri Supraśl berada pada pusat perbantahan antara gereja-gereja Orthodox dan Katholik dalam Polandia. Didirikan dalam abad ke-15 awal, monasteri ini berpindah tangan antara Katolik Roma, Orthodox dan Katholik Yunani beberapa masa. Dalam tahun 1944 bagian dari komplek diberikan kepada Orthodox sebagai sebuah monasteri, dan dalam bulan September 1993 Dewan Menteri Polandia memutuskan mengembalikan keseluruhan komplek kepada Gereja Orthodox. Pemindahan property ditunda karena protes baik dari gereja Roma maupun gereja Katholik Yunani. Namun dalam bulan Februari 1996 pemerintah Polandia menegaskan keputusannya kembali untuk memberikan komplek itu kepada Orthodox.
Dalam tahun belakangan ini, Gereja Orthodox Polandia menjadi lebih terintegrasi kedalam budaya Polandia, dan bahasa Polandia telah digunakan dalam liturgi lebih sering. Empat gereja secara berkala dipublikasikan, dan gereja menjadi semakin bertumbuh kembang dalam karya-karya kedermaan. Saat ini gereja memiliki 6 keuskupan dan 410 gereja-gereja dalam mana 250 paroki dilayani oleh 259 imam dan diaken. Seminari Teologi Orthodox dalam Warsawa memiliki sejumlah 80 siswa, dan ada sebuah fakultas teologi Orthodox di Akademi Teologi Kristen dalam kota yang sama dengan 35 siswa pra-sarjana.
 
Lokasi                             : Polandia
Kepala                            : Metropolitan Sawa (Lahir 1938, dipilih 1998)
Jabatan                          : Metropolitan Warsawa dan Seluruh Polandia
Kedudukan                     : Warsawa, Polandia
Keanggotaan                 : 570.000
 
« Previous