Skip Repetitive Navigational Links
Gereja Orthodox

Tradisi Dalam Gereja Orthodox

Sejarah iman Kristen Orthodox secara lahiriah ditandai oleh serentetan kejutan yang tiba-tiba: penaklukan Alexandria, Antiokhia dan Yerusalem oleh orang-orang Muslim Arab; pembakaran Kiev oleh bangsa Mongol; dua penyerangan Konstantinopel oleh bangsa Latin dan revolusi Oktober di Rusia. Namun demikian peristiwa-peristiwa ini, sementara telah mengubah bentuk luar dari Dunia Orthodox, tidak pernah memutuskan kesinambungan batiniah dari Gereja Orthodox. Hal yang pertama-tama sangat menyolok dilihat oleh orang asing pada waktu mereka bertemu dengan iman Kristen Orthodox biasanya adalah suasana kepurbaannya, ketidak-berubahannya yang begitu nampak menonjol. Umat Kristen Orthodox masih membaptiskan dengan penyelaman tiga kali; sebagaimana di Gereja Purba, mereka masih membawa bayi-bayi dan anak-anak kecil untuk menerima Perjamuan Kudus; di dalam Liturgi Ekaristi Imam masih berseru: “Pintu Gerbang!, Pintu Gerbang!” mengingatkan masa-masa awal ketika zaman masuk ke dalam Gereja sangat dijaga dengan hati-hati sekali, dan tak seorangpun kecuali anggota-anggota keluarga Kristen yang dapat menghadiri ibadah-ibadah keluarga; Pengakuan Iman masih diucapkan tanpa tambahan apapun.

Ini adalah beberapa saja daripada contoh-contoh lahiriah akan sesuatu yang merembesi setiap aspek dari kehidupan Orthodox. Apabila umat Orthodox ditanya dalam pertemuan-pertemuan antar Gereja di masa kini untuk meringkaskan apa yang mereka lihat sebagai suatu ciri khas dari Gereja mereka, mereka sering menunjuk langsung kepada ke-tak-berubahannnya, tekadnya untuk tetap setia kepada masa lalu, dan mendalamnya akan kesinambungan yang hidup dengan Gereja zaman purba. Pada awal abad ke-18, di dalam kata-kata yang mengingatkan kita akan bahasa dari konsili-konsili ekumenis, Patriarkh-patriarkh Timur mengatakan tepat dengan kata-kata yang sama kepada orang-orang Non Jurors (suatu kelompok tertentu dalam Gereja Anglikan).

Kami memelihara doktrin dari Tuhan tanpa dirusak, dan secara kokoh berpegang teguh pada iman yang dia sampaikan kepada kami, dan memeliharanya bebas dari cacat cela maupun pengurangan, sebagai suatu Harta Kerajaan, dan suatu monumen yang tak ternilai harganya, tanpa menambah apapun atau mengambil apapun darinya.
(Surat dari tahun 1718, di dalam G. Williams the Orthodox Church of the East in the Eighteenth Century, hal. 17)

Ide akan kesinambungan hidup ini diringkaskan oleh umat Orthodox dalam satu kata Paradosis (Tradisi), “kami tidak mengubah batasan-batasan kekal yang bapa-bapa kami telah tetapkan”, demikian tulis St. Yohanes dari Damaskus, “tetapi kami memelihara Paradosis (Tradisi) sama seperti kami menerimanya”. Umat Orthodox selalu berbicara mengenai Paradosis (Tradisi). Apa yang mereka maksudkan dengan kata ini? Suatu Paradosis biasanya dimengerti untuk menunjukkan suatu pendapat, keyakinan atau kebiasaan yang terus disampaikan dari nenek moyang kepada keturunan-keturunan. Paradosis Kristen, jika demikian, adalah iman dan praktek yang Yesus Kristus sampaikan kepada para rasul dan yang sejak zaman para rasul disampaikan dari sejak keturunan kepada keturunan selanjutnya di dalam Gereja (I Kor 15:3). Tetapi bagi seorang Kristen Orthodox, Paradosis (Tradisi) berarti sesuatu yang lebih kongkret dan lebih khas daripada ini. Paradosis itu berarti buku-buku dalam Alkitab; ini berarti Pengakuan Iman; ini berarti Rumusan-rumusan dari Konsili-konsili Ekumenis dan tulisan-tulisan dari para Bapa Gereja; ini berarti Hukum-hukum Kanon; ini berarti Kitab-kitab Ibadah; ini berarti Ikon-ikon Kudus –pada kenyataannya adalah seluruh sistem akidah ajaran, pemerintahan Gereja, ibadah, spiritualitas dan seni yang iman Kristen Orthodox telah artikulasikan selama berabad-abad. Orang-orang Kristen Orthodox pada masa kini melihat dirinya sebagai pewaris dan penjaga bagi suatu warisan yang kaya yang diterimanya dari masa lalu, dan mereka percaya bahwa adalah tugas mereka untuk meneruskan warisan ini tak terusakkan kepada generasi yang akan datang.

Harap dicatat bahwa Alkitab membentuk suatu bagian dari “Paradosis” (Tradisi). Kadang-kadang Paradosis didefinisikan sebagai pengajaran Kristus secara lisan, tidak tercatat di dalam tulisan murid-muridnya secara langsung. Bukan hanya orang-orang non-Orthodox tetapi banyak para penulis Orthodox telah mengadopsi cara berbicara seperti ini, memperlakukan Alkitab dan Paradosis sebagai dua hal yang berbeda, dua bentuk sumber-sumber iman Kristen yang berbeda. Namun pada realitanya hanya ada satu sumber saja, karena Alkitab ada di dalam Paradosis (Tradisi). Memisahkan dan mengkontraskan keduanya ini adalah mempermiskin ide tentang keduanya.

Umat Orthodox sementara menghormati warisan dari masa lalunya, juga sadar sekali bahwa tidak semuanya yang diterima pada masa lalu itu mempunyai nilai yang sejajar. Diantara unsur-unsur Paradosis (Tradisi) yang bermacam-macam itu, tempat yang sangat menonjol uniknya dimiliki hanya oleh Alkitab, Pengakuan Iman, Rumusan-rumusan Doktrinal dari Konsili-konsili Ekumenis. Hal-hal ini umat Orthodox menerima sebagai sesuatu yang mutlak dan tak berubah, sesuatu yang tidak dapat dibatalkan atau direvisi. Bagian-bagian dari Paradosis (Tradisi) yang lain tidak memiliki otoritas yang cukup sama. Ketetapan-ketetapan dari Jassy atau Yerusalem tidak berdiri pada tingkat yang sama sebagaimana Pengakuan Iman Nikhea, tidak pula tulisan-tulisan seorang Athanasius atau Symeon Theologiawan Baru, menempati tempat yang sama seperti Injil Yohanes.

Tidak segala sesuatu yang diterima dari masa lalu itu mempunyai nilai yang sama. Tidak juga segala sesuatu yang diterima dari masa lalu itu haruslah benar. Sebagaimana salah satu dari Bapa Gereja memberikan pernyataannya pada Konsili Kartago pada tahun 257: “Tuhan mengatakan, Akulah kebenaran. Dia tidak mengatakan, Akulah kebiasaan”. Ada perbedaan antara Paradosis (Tradisi) dan “tradisi-tradisi kesalehan”. Banyak tradisi yang telah disampaikan oleh masa lalu itu bersifat manusiawi dan secara kebetulan saja bersifat saleh (atau lebih buruk dari itu) tetapi bukan suatu bagian yang benar dari Paradosis yang satu-satunya itu, yaitu berita dan warta iman Kristen yang fundamental.

Adalah hakiki sekali untuk mempertanyakan masa lalu. Di dalam zaman Byzantium atau dalam zaman pasca Byzantium, umat Orthodox sering terlalu begitu tidak kritis dalam sikap mereka mengenai masa lalu, dan akibatnya adalah kemandegan. Kini sikap yang tidak kritis itu tidak dapat lagi dipertahankan. Standar kesarjanaan yang lebih tinggi, makin banyaknya kontak dengan orang-orang Kristen di Barat, dan masuknya sekularisme dan atheisme telah memaksa umat Orthodox di abad sekarang ini untuk melihat lebih dekat lagi pada warisan mereka dan untuk membedakan lebih hati-hati lagi antara Tradisi (Paradosis) dan tradisi-tradisi (paradosis-paradosis). Tanggung jawab untuk mengadakan pembeda-pilahan ini tidak mudah. Adalah penting untuk menghindari baik kesalahan dari para kaum Ritualis Lama maupun kesalahan dari Kelompok Gereja Yang Hidup. Kelompok yang satu jatuh ke dalam suatu sifat konservatifisme yang sangat ekstrem, yang tidak mengizinkan perubahan apapun di dalam tradisi-tradisi, sedangkan kelompok yang lain ke dalam kompromi-kompromi rohani yang merendahkan Tradisi. Namun di balik kendala-kendala tertentu yang kelihatan ini, umat Orthodox pada masa kini barangkali dalam suatu posisi yang lebih baik untuk membeda-pilahkan secara benar daripada apa yang dilakukan oleh pendahulu-pendahulu mereka selama berabad-abad; dan sering ini tepatnya disebabkan karena kontak mereka dengan Dunia Barat yang menolong mereka untuk melihat makin jelas lagi apa yang tidak dapat dihilangkan di dalam warisan mereka sendiri.

Kesetiaan Orthodox yang benar kepada masa lalu harus bersifat kesetiaan yang ‘kreatif’ karena Iman Kristen Orthodox yang benar tidak akan pernah berhenti puas dengan suatu “theologi pengulang-ulangan” yang mati, yang seperti burung beo mengulang-ulang rumusan-rumusan yang diterima tanpa berusaha untuk memahami apa yang terletak di balik semuanya itu. Kesetiaan terhadap Paradosis, kalau dimengerti secara benar adalah bukan sesuatu yang bersifat mekanis, suatu proses yang pasif dan otomatis dari penerusan hikmat yang telah diterima dari suatu era di zaman yang telah lampau. Seorang pemikir Orthodox haruslah melihat Tradisi (Paradosis) ‘dari dalam’ dia harus masuk ke dalam semangat batiniahnya, dia harus mengalami ulang makna dari Paradosis itu dengan suatu cara yang bersifat penggalian, penuh keberanian, dan penuh dengan kekreatifan yang bersifat imajinatif. Agar hidup di dalam Paradosis, tidaklah cukup untuk memberikan persetujuan intelektual kepada suatu sistem akidah ajaran; karena Paradosis adalah jauh lebih daripada sekedar suatu perangkat proposisi-proposisi abstrak- Paradosis adalah suatu kehidupan, suatu perjumpaan pribadi dengan Kristus di dalam Roh Kudus. Paradosis bukan hanya dipelihara oleh Gereja– tetapi Paradosis itu hidup di dalam Gereja, itu adalah hidup dari Roh Kudus di dalam Gereja. Pemahaman Orthodox mengenai Paradosis bukanlah bersifat mandeg tetapi dinamis, bukan suatu penerimaan mati akan masa lalu tetapi suatu penggalian secara hidup akan Roh Kudus di masa kini. Paradosis itu sementara hakekat batiniahnya tak pernah berubah (karena Allah itu tidak berubah) namun selalu saja mengambil bentuk-bentuk baru, yang menggantikan bentuk lama tanpa menghilangkan bentuk-bentuk yang lama itu. Umat Orthodox sering berbicara seolah-olah masa dari rumusan doktrinal sama sekali sudah berhenti, tetapi bukan demikian halnya. Barangkali di dalam zaman kita ini suatu Konsili Ekumenis yang baru akan diadakan, dan Paradosis akan diperkaya oleh suatu pernyataan-pernyataan iman yang segar.

Ide mengenai Paradosis sebagai sesuatu yang hidup ini telah diekspresikan secara baik oleh Georges Florovsky:

Paradosis/Tradisi adalah kesaksian dari Sang Roh; pewahyuan yang tidak henti-hentinya dari Sang Roh serta pemberitaan akan berita gembira…menerima dan mengerti Paradosis, kita harus hidup di dalam Gereja, kita harus sadar akan hadirat Tuhan yang memberi rahmat di dalamnya; kita harus merasakan nafas Roh Kudus di dalamnya….Paradosis bukan hanya suatu prinsip pemeliharaan dan penjagaan; ini terutama sekali, adalah prinsip pertumbuhan dan kelahiran kembali. Paradosis adalah bersemayamNya Sang Roh terus menerus dan bukan hanya kenangan akan kata-kata.
(“Katolisitas Gereja”, dalam Parable, Church, Tradition. Hal 46-47. Bandingkan juga essay nya, “St. Gregory Palamas and the Tradition of the Fathers” (“St Gregorios Palamas dan Tradisi Para Bapa Gereja”) dalam volume yang sama, hal.105-120; dan V. Lossky “Tradition and Traditions” (“Tradisi dan tradisi-tradisi”), di dalam Ouspensky dan Lossky, the Meaning of Icons, hal. 13-24)

Paradosis/Tradisi adalah kesaksian Roh Kudus: Di dalam kata-kata Kristus, “apabila Roh Kebenaran itu datang, Dia akan membimbing engkau ke dalam segala kebenaran” (Yohanes 16:13). Janji ilahi inilah yang membentuk dasar bagi keyakinan kokoh umat Kristen Orthodox terhadap Paradosis.