Skip Repetitive Navigational Links
Gereja Orthodox

Manusia Dalam Gereja Orthodox

DUA FAKTA

“Engkau telah menciptakan kami bagi diriMu sendiri, dan hati kami akan selalu gelisah sampai itu beristirahat di dalam Engkau.” Inilah yang dituliskan oleh St. Agustinus dari Hippo dalam karangannya yang terbaik yang berjudul “Pengakuan-Pengakuan”. Manusia diciptakan oleh Allah hanya untuk satu tujuan, yaitu: bagi persekutuan dengan Allah. Hal ini adalah peneguhan yang pertama dan terutama di dalam ajaran iman Kristen mengenai pribadi manusia. Tetapi manusia, yang diciptakan bagi persekutuan dengan Allah tadi, serta merta menolak persekutuan ini, manusia memilih dosa yang memisahkan dirinya dengan Allah, ini adalah fakta yang ke-dua, yang bersifat antropologis Kristen, bahwa manusia cenderung kepada dosa.

Manusia diciptakan bagi persekutuan dengan Allah, di dalam bahasa Gereja, Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya, dan menempatkan dia di Firdaus. Harus dimengerti dalam Teologi Orthodox, pasal-pasal pembukaan Kitab Kejadian tidak serta merta diambil sebagai suatu sejarah secara literal. Limabelas abad sebelum ilmu kritik Alkitab moderen, para Bapa Gereja berbahasa Yunani sudah menafsirkan kisah-kisah Penciptaan dan Firdaus ini secara simbolis lebih daripada secara literal. Manusia di mana-mana menolak persekutuan tadi yang di dalam bahasa Gereja, Adam jatuh, dan dalam kejatuhannya –“dosa asalnya”- telah berdampak bagi segenap manusia.

PENCIPTAAN DARI PRIBADI MANUSIA

“Dan Allah berfirman, marilah kita membuat manusia menurut gambar dan rupa kita” (Kejadian 1:26). Allah berbicara dalam bentuk jamak: “marilah Kita membuat manusia”. Penciptaan pribadi manusia, demikianlah para Bapa Gereja Yunani terus menerus menekankan, adalah suatu tindakan dari Tiga Hypostasis (Pribadi) dalam Tritunggal Mahasuci yang esa itu, dan dengan demikian gambar dan rupa Allah harus selalu dimengerti sebagai suatu gambar dan rupa yang bersifat “Tritunggal”. Kita akan menemukan bahwa ini adalah suatu titik pemikiran yang amat penting.

GAMBAR DAN RUPA

Menurut kebanyakan dari para Bapa Gereja Yunani, istilah gambar dan rupa tidak bermakna tepat-sama satu dengan yang lain. “Ekspresi menurut gambar”, tulis St. Yohanes dari Damaskus, “menunjukkan kepada rasionalitas dan kemerdekaan, sedangkan ekspresi menurut rupa menunjukkan panunggalan kepada Allah melalui kebajikan.” Gambar, atau menggunakan istilah Yunaninya: Ikon dari Allah menandai kehendak bebas kemanusiaan kita, akal budi kita, rasa akan tanggung jawab moral kita –dengan kata lain segala sesuatu yang membuat kita berbeda dari penciptaan binatang dan membuat kita masing-masing sebagai seorang pribadi. Namun gambar, memiliki makna yang lebih dari itu. Hal ini berarti kita adalah “keturunan-keturunan” Allah (Kisah Rasul 17:28), kaum keluargaNya. Ini berarti antara kita dan Dia ada suatu titik kontak dan kemiripan. Dalam hal ini maka jurang antara makhluk dan khalik bukan tak terseberangi lagi tapi malah terjembatani, oleh karena kita ada di dalam Gambar Allah, kita dapat mengetahui Allah dan dapat mengadakan panunggalan denganNya melalui Deifikasi (Theosis) atau PengIlahian.

Menurut Teologi Gereja Orthodox, apabila kita menggunakan anggota-angota tubuh batiniah dan jiwa kita secara seharusnya bagi persekutuan atau panunggalan dengan Allah, maka kita akan menjadi “seperti Allah”, kita akan mendapatkan keserupaan Ilahi; yang menurut kata-kata St. Yohanes dari Damaskus, kita akan “diasimilasikan/disatukan kepada Allah melalui kebajikan”. Mendapatkan keserupaan itu adalah diilahikan, ini menjadi semacam “keberadaan ke-dua manusia yang memiliki sifat ilahi; seorang yang bersifat “ilahi oleh karena rahmat”. Kodrat kita akan tetap sama, Kodrat kita tak akan berubah menjadi se-Dzat Hakekat dengan Allah. Kita menjadi seperti Allah melalui rahmat Ilahi (Anugerah). Kitab Mazmur mengatakan: “aku berkata, bahwa engkau adalah ilah-ilah, dan semuanya kamu adalah anak-anak dari Yang Tinggi” (Mazmur 82:6; bandingkan Yohanes 10:34-35).

Gambar menunjukkan kekuatan-kekuatan yang dengannya masing-masing kita dikaruniai oleh Allah dari saat pertama keberadaan kita; rupa bukanlah suatu pemberian yang kita miliki dari awalnya, tetapi suatu tujuan akhir yang kepadanya kita harus mengarah, sesuatu yang kita dapat mencapainya melalui derajat-derajat tingkatan kebajikan. Namun demikian meskipun bagaimana berdosanya kita ini, kita tidak pernah kehilangan gambar itu; tetapi rupa itu tergantung kepada pilihan moral kita, tergantung kepada “kebajikan” kita. Kebajikan asali ini dihancurkan oleh dosa.

Manusia dengan demikian sejak penciptaannya yang pertama itu sempurna, bukannya bermakna dalam arti kenyataan namun dalam arti potensial. Dikaruniai dengan gambar dari awal, mereka dipanggil untuk mencapai keserupaan oleh usahanya sendiri (tentu saja dibantu oleh rahmat Allah). Adam mulai dalam suatu keberadaan tanpa dosa dan kesederhanaan. “dia adalah seorang anak kecil yang belum mempunyai pengertiannya disempurnakan, adalah perlu bahwa dia harus bertumbuh dan dengan demikian memperoleh kesempurnaannya”, demikian tulis St. Ireneus dari Lyon. Allah telah menempatkan Adam pada jalan yang lurus, tetapi Adam memiliki di depannya suatu jalan yang panjang untuk dilalui agar mencapai tujuan akhirnya. Gambaran Adam sebelum kejatuhannya itu memang agak berbeda dari apa yang disodorkan oleh St. Agustinus dari Hippo dan pendapat ini diterima di Gereja Barat sejak zaman Agustinus. Menurut St. Agustinus dari Hippo, manusia di Firdaus dikaruniai dari awal dengan semua kemungkinan hikmat dan kebijaksanaan: mereka memiliki semua kesempurnaan yang telah terealisasi dan sama sekali bukan bersifat potensial. Pemahaman yang dinamis dari St. Ireneus dari Lyon dengan mudahnya lebih cocok dengan teori-teori evolusi di zaman moderen daripada pemahaman yang lebih bersifat statis dari St. Agustinus dari Hippo; tetapi keduanya berbicara sebagai teolog dan bukan sebagai ilmuwan, sehingga tak satupun dari kasus pandangan keduanya itu berdiri atau jatuh dengan hipotesis sains ilmu pengetahuan apapun.

Gereja Barat sering mengasosiasikan Gambar Allah dengan jiwa manusia atau intelek manusia. Sementara banyak umat Orthodox yang melakukan hal yang sama, yang lain-lainnya akan mengatakan bahwa karena pribadi manusia itu adalah suatu kesatuan yang tunggal dan utuh, Gambar Allah merangkul seluruh kepribadian manusia, baik tubuh maupun jiwanya. St. Gregorius Palamas mengatakan: “ketika Allah dikatakan menciptakan pribadi manusia menurut gambarNya, kata “pribadi” tidak berarti hanya jiwanya pada dirinya sendiri atau tubuhnya pada dirinya sendiri, tetapi dua-duanya secara bersama”. Fakta bahwa manusia memiliki suatu tubuh membuat mereka tidak lebih rendah tetapi lebih tinggi dari para malaikat. Demikian yang diungkapkan oleh St. Gregorius Palamas. Memang benar, bahwa malaikat adalah “roh” murni, sementara kodrat manusia itu “campuran” (jiwa/roh dan tubuh) –jasmani dan intelektual– tetapi ini malah berarti bahwa kodrat kemanusiaan kita ini lebih lengkap daripada kodrat malaikat dan dilengkapi dengan potensi-potensi yang lebih kaya. Pribadi manusia adalah suatu mikrokosmos (jagad cilik), suatu jembatan dan titik pertemuan bagi seluruh ciptaan Allah.

Pemikiran para rohaniwan Orthodox memberikan penekanan yang sangat penting pada Gambar Allah di dalam diri manusia. Masing-masing kita adalah “suatu teologi hidup”, dan karena kita adalah ikon-ikon Allah, kita dapat menemukan Allah dengan melihat ke dalam hati kita sendiri, dengan “kembali ke dalam diri kita”: “Kerajaan Allah ada di dalam kamu” (Lukas 17:21). “Kenalilah dirimu sendiri sebab dia yang mengetahui dirinya sendiri mengetahui Allah”, kata St Antonius Agung dari Mesir, “Jikalau engkau murni, sorga ada di dalam kamu; di dalam dirimu sendiri engkau akan melihat para malaikat dan Tuhan dari para malaikat tadi”, tulis St. Ishak dari Suriah (akhir abad ke-7), dan St. Pakhomius berkata: “di dalam kemurnian hatinya dia melihat Allah yang tidak kelihatan sebagai di dalam suatu cermin”.

Karena masing-masing dari kita adalah suatu ikon dari Allah, maka masing-masing anggota bangsa manusia, bahkan yang paling berdosa sekalipun secara tak terbatas sangat mulia di mata Allah. “Apabila engkau melihat saudara atau saudarimu engkau melihat Allah”, demikian kata St. Klemen dari Alexandria, Dan seorang teolog kuno bernama Evagrius dari Pontus mengajarkan: “sesudah Allah, kita harus menghitung setiap orang sebagai Allah sendiri”. Penghormatan terhadap setiap manusia itu secara nampak diekspresikan dalam Ibadat Gereja Orthodox, ketika Imam mendupai tidak hanya ikon-ikon tetapi juga anggota jemaat, memberikan salam kepada Gambar Allah di dalam masing-masing orang. Ikon Allah yang terbaik adalah pribadi manusia.

KASIH KARUNIA (RAHMAT) DAN KEHENDAK BEBAS

Sebagaimana yang telah kita lihat, fakta bahwa manusia diciptakan di dalam Gambar Allah itu mempunyai makna bahwa kita memiliki kehendak bebas. Allah menghendaki anak-anak, bukan budak-budak. Gereja Orthodox menolak setiap doktrin mengenai rahmat (kasih karunia) yang kelihatannya bisa melanggar asas kebebasan kehendak manusia. Untuk mengambarkan antara rahmat (kasih karunia) Allah dan kebebasan kehendak manusia, iman Kristen Orthodox menggunakan istilah kerjasama atau sinergi (synergeia). Dengan menggunakan kata-kata Rasul Paulus: “karena kami adalah kawan sekerja (synergoi) Allah” (I Korintus 3:9). Jikalau kita harus mencapai kesatuan yang sepenuhnya dengan Allah (Theosis), kita tidak dapat melakukannya tanpa pertolongan Allah, namun disamping itu bukan berarti kita tidak berperan sama sekali, kita juga harus memainkan bagian kita sendiri. Manusia maupun Allah harus memberikan sumbangannya kepada karya bersama (Theosis) ini, meskipun apa yang dilakukan Allah itu secara tak terbatas jauh lebih penting dari apa yang kita lakukan. “Penyatuan diri manusia ke dalam Kristus dan panunggalan kita dengan Allah menuntut kerjasama dari dua kekuatan yang tidak seimbang (Allah dan Manusia), tetapi walaupun kekuatan-kekuatan ini tak seimbang, keduanya sama pentingnya: rahmat (kasih karunia) dan kehendak manusia.” Contoh paling puncak dan paling baik dari sinergi ini adalah Sang Theotokos (Bunda Allah) Yang Selalu Perawan Maria.

Gereja Barat, sejak zaman St. Agustinus dari Hippo, telah mendiskusikan masalah rahmat dan kehendak bebas manusia ini dengan istilah-stilah yang memang agak berbeda, dan banyak orang yang dibesarkan dari tradisi Agustinianisme –khususnya Golongan Calvinis Reformasi Protestan– telah memandang ide Teologi Orthodox mengenai synergi itu dengan perasaan curiga. Hal ini dikarenakan Gereja Orthodox memberikan tempat yang cukup penting bagi manusia dan kehendak bebasnya, bahwa manusia juga berperan dalam keselamatan. Dalam hal ini mereka berpendapat bahwa Teologi Orthodox Timur memberikan terlalu banyak kepada kehendak bebas, dan terlalu kecil kepada rahmat Allah. Namun dalam realitanya pengajaran Gereja Orthodox itu sangat tegas berkenaan dengan hal ini. Kitab Suci mencatat: “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk. Jikalau ada orang yang mendengar suaraKu dan membuka pintu Aku akan masuk mendapatkannya” (Wahyu 3:20). Allah yang mengetuk, tetapi menunggu kita untuk membuka pintu –Dia tidak akan pernah merusak pintu untuk memaksa masuk. Kasih karunia (rahmat) Allah mengundang semua tetapi tidak akan pernah memaksa siapapun untuk menerimanya. Dengan mengikuti kata-kata dari St. Yohanes Khrisostomos, “Allah tidak pernah menarik siapapun kepada diriNya dengan paksaan dan kekerasan. Dia menghendaki semua mahkluk untuk diselamatkan tetapi Ia tidak akan memaksa siapapun”. St. Kirilus dari Alexandria menambahkan: “Bagi Allah-lah untuk mengaruniakan rahmat (kasih karunia)Nya, tugasmu adalah untuk menerima rahmat (kasih karunia) tadi dan untuk menjaganya”. Tetapi jangan sampai diangan-angankan, bahwa karena seseorang menerima dan menjaga rahmat Allah, dengan demikian dia otomatis mendapatkan “jasa” atau “amal-perbuatan” yang harus menerima pahala. Karunia Allah itu pemberian yang cuma-cuma dan kita manusia tidak pernah memiliki hak apapun untuk mengklaim Pencipta kita. Tetapi sementara kita tidak dapat hidup menerima pahala atas “jasa” kita buat keselamatan, tetapi tentu saja kita harus bekerja untuknya, karena “iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:72), dan “…tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar….” (Filipi 2:12).