Skip Repetitive Navigational Links
Gereja Orthodox

Kitab Suci Dalam Gereja Orthodox

Gereja Kristen adalah Gereja yang bersifat Kitab Suci. Iman Kristen Orthodox percaya hal ini sama kokohnya, jikalau tidak lebih kokoh dengan Protestanisme. Alkitab adalah ekspresi yang terpuncak dari wahyu Allah kepada manusia, dan orang-orang Kristen selalu harus menjadi “umat yang berkitab” . Tetapi jikalau umat Kristen adalah mereka yang berkitab suci, maka Kitab Suci adalah Kitab Umat (kitabnya suatu umat); Alkitab tidak boleh dianggap sebagai suatu yang diletakkan di atas Gereja, tetapi sebagai sesuatu yang hidup dan dimengerti di dalam Gereja (itulah sebabnya mengapa orang tidak boleh memisahkan Alkitab dan Paradosis) karena di dalam Gerejalah Alkitab itu pada akhirnya memiliki otoritasnya, karena Gereja-lah yang akhirnya memutuskan buku mana yang membentuk bagian dari Kitab Suci dan Gereja saja yang dapat menafsirkan Kitab Suci dengan sepenuh kewibawaan. Ada banyak kata dalam Alkitab yang pada dirinya sendiri jauh dari jelas dan para pembaca secara pribadi, betapapun tulusnya ada dalam bahaya kesalahan dalam mereka percaya kepada tafsiran pribadi. “Apakah engkau mengerti apa yang sedang kau baca?”, Filipus bertanya kepada sida-sida dari Ethiopia; dan sida-sida itu menjawab: “Bagaimana aku mengerti, jika tidak ada orang yang membimbing aku?” (Kisah Rasul 8:30-31). Apabila umat Orthodox membaca Kitab Suci, mereka mendapat bimbingan dari Gereja. Ketika diterima ke dalam Gereja Orthodox, seorang petobat baru berjanji, “Saya akan menerima dan mengerti Kitab Suci sesuai dengan tafsiran yang telah dilakukan dan yang tetap dipertahankan oleh Gereja Timur yang Kudus, Katholik dan Orthodox, Ibu Kita.”

TEKS DARI ALKITAB: ILMU KRITIK ALKITAB

Gereja Orthodox mempunyai Perjanjian Baru yang sama sebagaimana Dunia Kristen yang lain. Sebagai teks-nya yang berwibawa untuk Perjanjian Lama, Gereja Orthodox menggunakan terjemahan Yunani Purba yang dikenal sebagai Septuaginta. Apabila ini berbeda dari Bahasa Ibrani yang asli (yang terjadi amat sering), umat Orthodox percaya bahwa perubahan bacaan dalam Septuaginta dibuat di dalam ilham dari Roh Kudus dan diterima sebagai bagian dari wahyu Ilahi yang terus berkesinambungan. Satu contoh yang terbaik adalah Yesaya 7:14 –dimana Bahasa Ibraninya berbunyi: “seorang wanita muda akan mengandung dan melahirkan seorang anak” yang Septuaginta menterjemahkan “seorang dara (perawan) akan mengandung…”. Perjanjian Baru mengikuti teks Septuaginta (Matius 1:23).

Bentuk asli Ibrani dari Perjanjian Lama mengandung 39 buku. Septuaginta mengandung di dalamnya 10 buku lebih banyak, yang tidak ada dalam kitab Ibrani. Kitab-kitab ini dinyatakan oleh Konsili-konsili Jassy (1642) dan Yerusalem (1672) sebagai “bagian yang sah dari Kitab Suci”; namun demikian beberapa dari sarjana Orthodox pada masa moderen menganggap bahwa Kitab-kitab ini meskipun bagian dari Alkitab, berada dalam tingkat yang sedikit rendah daripada Perjanjian Lama yang Bahasa Ibrani, tetapi secara kanonikal sah kitab-kitab ini adalah firman Allah yang berwibawa sama dengan kitab-kitab lainnya dalam kanon Ibrani, hal ini juga dinyatakan oleh para Bapa Gereja.

Iman Kristen, kalau itu benar, tidak perlu takut akan suatu penyelidikan yang jujur. Iman Kristen Orthodox sementara menganggap Gereja sebagai penafsir Kitab Suci yang berwibawa, tidak melarang suatu pengkajian yang kritis dan historis akan Alkitab, meskipun sampai saat ini para sarjana Orthodox tidak begitu menonjol dalam bidang ini.

ALKITAB DAN IBADAH GEREJA

Kadang-kadang orang mengira Gereja Orthodox memberikan tempat yang kurang penting kepada Alkitab dibanding orang-orang Kristen Barat. Namun pada faktanya Alkitab dibaca terus menerus di dalam ibadah-ibadah Orthodox: saat Ibadat pagi dan Ibadat Senja, seluruh Mazmur didaraskan setiap Minggu, dan pada saat Masa Puasa Pra-Paskah dua kali dalam seminggu; Pembacaan-pembacaan Perjanjian Lama dilakukan pada Ibadat Senja dan pada petang menjelang banyak pesta-pesta Gereja, dan pada jam yang ke-6 serta Ibadat Senja pada hari-hari dalam seminggu pada saat masa puasa Pra-Paskah (tetapi adalah disayangkan bahwa tidak ada pembacaan Perjanjian Lama dalam Liturgi Suci hari Minggu); Pembacaan Injil merupakan puncak dari Ibadat Pagi pada hari Minggu dan pesta-pesta; pada Liturgi suatu bacaan Kitab-Kitab Epistel dari para rasul dan Injil tertentu ditetapkan bagi setiap hari selama setahun, sehingga seluruh Perjanjian Baru (kecuali Kitab Wahyu) dibaca pada ibadah Perjamuan Kudus. Doa Simeon (Lukas 2;29-32) dibaca pada setiap Sembahyang Senja; ayat-ayat Perjanjian Lama, dengan Doa Bunda Maria (“Jiwaku memuliakan Tuhan”) (Lukas 1:46-56) dan Doa Zakharia (“Terpujilah Tuhan”, Lukas 1:68-79) dinyanyikan pada setiap Sembahyang Singsing Fajar; Doa Bapa Kami dibaca pada setiap ibadah. Di samping kutipan-kutipan khusus dari Alkitab ini, seluruh teks dari masing-masing ibadah dipenuhi dengan bahasa-bahasa Alkitab dan telah dihitung bahwa Liturgi Suci saja mengandung 98 kutipan dari Perjanjian Lama dan 114 dari Perjanjian Baru.

Iman Kristen Orthodox menganggap Alkitab sebagai suatu ikon verbal dari Kristus, Konsili Ekumenis yang ke-7 menetapkan Ikon-ikon Kudus dan buku-buku Injil harus dihormati dangan cara yang sama. Di setiap Gereja, Kitab Injil mempunyai tempat kehormatan di atas Altar; itu diarak dalam prosesi pada Liturgi Suci dan pada Ibadat Pagi pada hari Minggu dan pada pesta-pesta, orang beriman menciumnya dan menundukkan dirinya di depannya. Ini adalah penghormatan yang ditunjukkan di dalam Gereja Orthodox atas firman Allah.